Menunggu Gebrakan Ketua KPK

Oleh : Hartoto

Innalillahi Wainalillahi Rojiun....

Itulah kata – kata pertama yang pernah di ucapkan oleh Busyro Muqoddas ( BM ), setelah terpilih sabagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ), yang baru. Kata – kata tersebut menurut BM, konteksnya bukan untuk orang meninggal melainkan ada amanat besar yang harus di pertanggungjawabkan.

BM terpilih melalui proses voting yang berlangsung dua tahap. Pertama BM mengalahkan calon pimpinan KPK lainya, yakni Bambang Widjojanto ( BW ), yang merupakan rekannya sendiri. BM menang dengan mengantongi 34 suara, sedangkan BW hanya memperoleh 20 suara.

Kemudian pada tahap kedua dalam pemilihan Ketua KPK yang baru, BM juga menang telak mengungguli Bibit Samad Rianto, Chandra Hamzah, Muhammad Yasin dan Haryono Umar. BM memperoleh 43 suara, Bibit Samad Rianto 10 suara, Muhammad Yasin 2 Suara. Sedangkan Haryono Umar dan Chandra Hamzah tidak memperoleh suara satupun.

Siapakah BM

Setelah terpilih menjadi Ketua KPK yang baru menggantikan Antasari  Azhar karena terlibat kasus hukum, tentunya publik bertanya – tanya siapakah BM ? Penulis sangat percaya sebenarnya publik sudah banyak yang mengenal atau sudah mengetahui curiculum vitae nya.

Jadi penulis akan sedikit memberikan gambaran tentang profile BM kepada masyarakat, khususnya masyarakat awam yang belum mengenal dan mengetahui BM.

BM dilahirkan di Yogyakarta, pada Tanggal 17 Juli 1952. Ia di karuniai tiga orang anak, dua putri dan satu putra yang bernama ( Rahma Kusuma Putri, Farah Kurniawati dan Muchlas Hamidi ). BM menamatkan pendidikan Sarjana Hukumnya di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia ( UII ), Yogyakarta pada tahun 1977. Kemudian BM melanjutkan pendidikannya di Universitas Gajag Mada ( UGM ), Yogyakarta pada Tahun 1985 dengan memperoleh gelar Master Hukum ( MH ).  Lalu BM juga mengambil program Doktor bidang hukum di almamaternya UII pada Tahun 2010.

Perjalanan kariernya cukup cemerlang, diawali di dunia pendidikan dan hukum dengan menjadi Direktur Lembaga Konsultasi  dan Bantuan Hukum UII  pada Tahun 1983. BM juga pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan III FH UII ( 1986 – 1988 ), Pembantu Dekan I FH UII ( Tahun 1988 – 1990 ), dan menjadi Dekan FH UII tahun 1999.

Suami dari Soimah Kusuma Wahyuni pernah menjadi Anggota Dewan Etik Indonesia Court Monitoring ( ICM ), Yogyakarta ( 2000 – 2005 ). Setelah itu BM menjadi Ketua Komisi Yudisial ( KY ) Republik Indonesia ( 2005 – 2010 ). Lalu pada saat ini BM terpilih menjadi pimpinan dan Ketua KPK sampai tahun 2011.

Pria yang low profile ini merupakan sosok yang sederhana dan bersahaja. BM tidak suka olah raga elit, seperti Golf. BM juga tidak suka mengendarai mobil dinas . Ia lebih memilih naik mobil kijang miliknya. Selain itu juga sewaktu masih aktif di kampusnya BM lebih suka mengendarai sepeda motor daripada naik mobil.

Kenapa pilih BM

Yang kita ketahui calon pimpinan KPK yang di uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI ada dua ( BM dan BW ). Dua – duanya bagus, merupakan figur terbaik dan di terima oleh publik. Tapi kenapa yang terpilih BM.

Ada rentetan pertanyaan atas terpilihnya BM, yang bernada sumbang.Mereka menilai terpilihnya BM sebagai pimpinan dan Ketua KPK karena BM lebih kompromistis. Ada juga suara yang mengatakan kemenangan BM bukan pada kemampuannya. Melainkan lebih pada keramahan anggota parlemen kepada BM, karena BM mudah di terima oleh DPR dengan gayanya yang kalem dan tidak terlalu agresif.

Selain itu terpilihnya BM sebenarnya sudah diduga. Karena nama BM sudah pernah disinggung oleh sekretariat gabung ( Setgab ) koalisi pemerintah dalam suatu pertemuan sebelum pemilihan pimpinan dan Ketua KPK di Komisi III DPR RI. SBY yang merupakan Ketua Setgab Koalisi  lebih menyukai BM. Bahkan untuk menunjukan bukti dukungannya, Partai Demokrat yang merupakan partai pemerintah memberikan dukungan penuh dengan memberikan suaranya kepada BM.

Kenapa bukan BW

Tidak terpilihnya BW sebagai pimpinan KPK banyak menimbulkan suatu pertanyaan. Ada apa dengan Komisi III DPR ? Padahal BW berkepribadian baik, mempunyai karakter dan kemampuannya setara dengan BM. Kurang apa BW ? Apa karena BW terlalu radikal dan tak kenal kompromi sehingga DPR dan Pemerintah takut jika BW terpilih menjadi pimpinan KPK. Padahal menurut penulis itu sangat bagus sebagai upaya shock terapi bagi para koruptor agar jangan di beri ruang gerak untuk melakukan korupsi.

Menurut penulis, BW  sangat terkenal dengan sepak terjangnya dalam upaya pemberantasan korupsi  dan jika terpilih menjadi pimpinan dan Ketua KPK akan menjadi bumerang bagi DPR dan Pemerintah. Apalagi BW lebih mengerti dan menguasai peta pemberantasan korupsi.

Tapi bagaimana lagi, mungkin DPR dan Pemerintah sudah mempunyai penilain tersendiri terhadap kedua calon pimpinan KPK. Kini BW sudah legowo dengan mengatakan ini merupakan hasil terbaik yang telah diberikan oleh DPR dengan plus minusnya. Bahkan BW sudah menyatakan akan tetap memberikan kontribusi kepada negara lewat pemberantasan korupsi diluar KPK.

Apa yang akan dilakukan oleh BM

Setelah terpilih menjadi Ketua KPK, apa yang akan dilakukan oleh BM. Apalagi kepemimpinan BM sekarang telah di perpanjang oleh Mahkamah Konstitusi ( MK ), yang telah memutuskan jabatan Ketua KPK menjadi empat tahun dari satu tahun yang diputuskan DPR.

Dengan di perpanjanjangnya masa jabatan BM akan menjadi pekerjaan berat bagi BM yang saat ini telah terpilih sebagai Ketua KPK. Dengan waktu 4 Tahun lagi, BM harus bisa mengefektifkan waktu dengan melakukan konsolidasi kedalam tubuh KPK. Terutama membenahi struktur organisasi dan lembaganya.

Selain itu BM harus segera menyusun skala prioritas kasus mana yang akan di dahulukan apakah akan menyelesaikan kasus centuri atau mengambil alih kasus Gayus dari Kepolisian. Atau menangani kasus terbaru Muhammad Nazarudin tentang kasus suap pembangunan gedung Wisma Atlet Sea Games Palembang yang di sebut – sebut banyak menyeret elite Partai Demokrat.

BM harus bisa menyelesaikan salah satu kasus tersebut, apalagi kasus itu telah menjadi perhatian publik. KPK harus bisa membuat gebrakan untuk membuktikan kepada publik kalau lembaganya benar – benar independen terlepas dari intervensi politik, khususnya intervensi dari istana yang sudah memberikan dukungan kepada BM.

Mari kita menunggu langkah kongkrit dari BM setelah ditetapkan sebagai Ketua KPK yang baru dan setelah di perpanjang masa jabatannya oleh MK dalam hal pemberantasan korupsi di Indonesia.

Penulis

Hartoto

Alumnus Universitas Cokroaminoto Yogyakarta ( 081 946 957 910 ).


  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  


Hartoto
tanggal 26 Juli 2011

Rating : 1
Rating :


  • Silahkan login terlebih dahulu, untuk memberi komentar.


  • Tentang Korupsiana

    Silakan berbagi opini dan komentar tentang korupsi. Disini anda bisa :