Aktivis Anti korupsi Beraksi di Titik Nol Kilometer

Oleh Bethriq Kindy Arrazy

Bila sebelumnya Sentra Informasi dan Data untuk Anti Korupsi (SIDAK) mengadakan kegiatan konsorsium gerakan sosial anti korupsi yang diadakan di Hotel Puri Artha minggu lalu. Acara yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat yang terdiri dari BEM, DEMA, Persma, Komunitas, LSM, Organisasi Anti Korupsi  sampai parpol. Menghasilkan sekiranya tujuh point utama tuntutan hasil kajian di forum konsorsium, yang ditujukan kepada pemerintah. Di akhir acara, peserta konsorsium menandatangani kanvas sebagai kesepakatan bersama dalam memberantas korupsi, yang rencananya akan diserahkan di lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif kota Yogyakarta.

Hasil dari forum konsorsium tersebut yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan aksi damai bersama aktivis antikorupsi dan seluruh elemen mahasiswa. Dimulai dengan mengunjungi Pengadilan Negeri Yogyakarta. Sesampai disana, para aktivis antikorupsi mendapatkan sambutan hangat dari Mohammad Lutfi dan dan Nurzaman selaku ketua dan wakil ketua Hakim Pengadilan Negeri Yogyakarta. Dalam sambutannya Mohammad Lutfi, mengutarakan dalam tahun ini pihaknya bersama lembaga yang ia pimpin, sudah menjebloskan sekitar lima orang koruptor masuk penjara dan salah seorang masih pada proses pemeriksaan. “Saya mewakili hakim Pengadilan Negeri, sangat membutuhkan dukungan masyarakat, terutama dengan teman-teman LSM yang sangat peduli dengan kasus korupsi di Indonesia,” ungkapnya.

Selesai dari Pengadilan Negeri Yogyakarta, dilanjutkan kembali ke kantor gubernur, yang tak lama kemudian mendapatkan sambutan dari Pakualam ke-11 selaku wakil gubernur Yogyakarta dan perwakilan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Yogyakarta), dari Komisi A.

Aris Arif Mundayat, selaku Direktur SIDAK berpendapat soal penerapan hukuman mati bagi para koruptor. Ia mengutarakan, bahwa secara pribadi sangat tidak sepakat karena hukuman mati, dikarenakan hukuman mati secara manusiawi akan mempersingkat hukuman yang di terima koruptor. Aris sendiri memiliki cara tersendiri dalam memberikan hukuman bagi para koruptor, yaitu dengan memiskinkan harta koruptor dan memberikan hukuman sosial. “Memberikan hukuman koruptor dengan, meyuruhnya menyapu jalanan dengan baju khusus, secara tidak langsung akan memberikan efek jera dari sanksi moral yang dia dapatkan selama menjalani hukuman,” jelasnya.

Setelah memberikan bingkai berisi sumpah pemuda anti korupsi dan kanvas berisi tanda tangan peserta konsorsium di tiga lembaga negara. Agenda dilanjutkan dengan melakukan aksi orasi yang diisi oleh beberapa aktivis anti korupsi yang turut hadir pada momen tersebut, yang berlokasikan di titik nol kilometer Yogyakarta.

SIDAK yang menyediakan kain mori sepanjang 28 meter untuk ditandatangani oleh masyarakat yang melintas di sekitar Monumen 1 Maret Serangan Umum. Rencananya dalam waktu dekat kain mori berisi tanda tangan ini akan diserahkan langsung ke presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Beberapa diantaranya, memberikan apresiasi yang besar dari masyarakat. Anissa Pertiwi, yang juga sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri in memberikan pendapat soal korupsi. Kenurutnya korupsi sudah merusak tatanan negara dari berbagai bidang. Diperparah dengan penegakan hukum yang terlihat belum maksimal. “Korupsi menjadi budaya baru Indonesia, yang bersifat merusak,” ujarnya.

Berbeda dengan yang diungkapkan oleh Tini Andari. Ia memberikan tanggapan, bahwa pihaknya tidak tahu banyak tentang korupsi yang ada di Indonesia saat ini, yang dikarenakan kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. “Yang saya tahu korupsi itu, merugikan, tapi lebih lengkapnya saya masih sedikit awam soal korupsi, tahunya hanya Gayus, itu pun dari sebuah lagu,” paparnya.

 


  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  


Bethriq Kindy Arrazy
tanggal 05 Nopember 2011

Rating : 1
Rating :


  • Silahkan login terlebih dahulu, untuk memberi komentar.


  • Tentang Korupsiana

    Silakan berbagi opini dan komentar tentang korupsi. Disini anda bisa :