Kaum Muda dan Semangat Anti Korupsi

Oleh: Salma

Kaum muda merupakan kelompok dengan semangat yang meletup-letup, idealisme tinggi, dan keberanian untuk melawan arus. Kaum muda juga merupakan kelompok yang berani mengambil resiko dan memiliki kohesivitas atau keterikatan tinggi dengan komunitasnya. Akan tetapi, kaum muda juga seringkali dianggap sebagai kelompok yang cenderung berpikir pendek –meski bukan dalam arti pragmatis- dan labil. Kesemuanya itu adalah pendapat umum di dalam masyarakat.


Ditinjau dari teori penalaran moral Kohlberg, penalaran moral individu akan berkembang seiring dengan perkembangan kognitifnya. Penalaran moral yang dimaksud di sini adalah penalaran mengenai mana yang dianggap baik/ pantas dan tidak baik/ tidak pantas. Pada usia di atas 12 tahun, individu telah mencapai perkembangan kognitif operasional formal, di mana individu telah mampu memahami konsep yang bersifat abstrak. Linier dengan pencapaian perkembangan kognitifnya, individu pada tahap usia ini mulai memasuki tahap penalaran moral pascakonvensional. Pada tahap ini, individu telah memiliki penalaran yang bersifat universal, tidak terbatas pada norma ciptaan masyarakat yang dimaknai permukaannya saja.


Contoh yang sering dipaparkan untuk menggambarkan penalaran moral ini adalah kisah seorang lelaki yang mencuri obat di apotek karena istrinya yang sekarat dan pihak apotek tidak mau memberikan keringanan biaya. Apakah tindakan lelaki tersebut dianggap pantas atau tidak bergantung pada tingkat penalaran moral seseorang. Jika seseorang menilai kasus tersebut dari sudut pandang yang substantif, maka penalaran moralnya telah masuk pada tahap pascakonvensional dan bersifat universal. Tindakan lelaki yang mencuri obat tidak akan dilihat hanya dari perilaku mencurinya saja, melainkan juga latar belakangnya dan bagaimana berbagai usaha yang sudah dilakukannya tidak direspon positif oleh pihak-pihak yang berwenang dan mampu membantunya.


Mengapa teori penalaran moral saya paparkan di awal? Hal ini dikarenakan korupsi merupakan perilaku yang terikat nilai moral. Korupsi merupakan perilaku yang dianggap tidak bermoral (tidak baik dan tidak pantas). Pada tingkat penalaran moral pascakonvensional, penilaian negatif terhadap korupsi sudah bersifat universal. Setiap individu yang telah matang secara kognitif akan punya persepsi yang sama terhadap suatu tindakan yang secara substansi merupakan tindak korupsi, sekalipun tindakan tersebut telah dipoles dan dipercantik sedemikian rupa hingga tak lagi berparas korupsi.


Pada masa orde baru dulu, banyak sekali tindakan korupsi yang terjadi dan dilegitimasi oleh negara. Bagaimana dulu partai Golkar dapat secara mutlak meraih kemenangan melalui refresifitas terhadap pegawai negeri sipil, dan contoh kasus lainnya. Sebaliknya, saat ini, pasca reformasi, kondisinya masih tidak lebih baik, melainkan hanya berganti wujud saja. Secara prosedural memang telah dibentuk lembaga-lembaga dengan wewenang khusus untuk memberantas korupsi. Akan tetapi, secara substansial, kita belum dapat bersenang hati. Dengan masih banyaknya sisa-sisa elit orde baru baik di tingkat nasional maupun daerah, budaya korupsi yang telah terinternalisasi masih sulit untuk diubah. Meski pungutan liar seleksi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) terjadi di depan mata dan menjadi rahasia umum, tetapi tak ada seorangpun yang berani berniat melaporkannya. Pertama, bisa jadi mayoritas masyarakat tidak tau bagaimana cara melaporkan pelanggaran semacam itu. Kedua, pihak yang seharusnya dilapori juga mendukung praktik tersebut. Alhasil, status quo yang menang. Korupsipun tak berhasil diberantas.


Di sinilah kaum muda memiliki peran pentingnya. Mengapa? Kaum muda telah mencapai penalaran moral pascakonvensional dan telah mampu membedakan baik buruk secara substansial dan universal. Dengan idealisme yang baru saja terbentuk, intensitas energi yang dikeluarkan untuk dapat menjaga dan mewujudkan idealisme tersebut menjadi tinggi. Energi berlebih tersebut akan sangat bermanfaat optimal jika dapat diarahkan secara tepat dalam strategi pemberantasan korupsi. Penyebarluasan gagasan dan semangat anti korupsi ke sesama kaum muda lainnya pun akan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Ketika kaum muda bersatu dengan idealismenya, hal tersebut akan menjadi tekanan tersendiri kepada koruptor.

 

Peran penting kaum muda lainnya adalah dalam memberikan pendidikan anti korupsi kepada masyarakat awam. Masyarakat di tataran akar rumput umumnya belum benar-benar memahami tindakan macam apa saja yang bisa disebut korupsi dan bagaimana cara melaporkannya. Kaum muda dengan keberaniannya dapat menjad motor dan garda depan di antara masyarakat umum dalam belajar bersama, mengawasi bersama, dan memberantas bersama korupsi di sekitarnya.

 

Kaum muda, saatnya beraksi!


  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  


Salma
tanggal 23 Juli 2011

Rating : 5
Rating :


  • Silahkan login terlebih dahulu, untuk memberi komentar.


  • Tentang Korupsiana

    Silakan berbagi opini dan komentar tentang korupsi. Disini anda bisa :